PROMO

Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 September 2014

Perhiasan Termulia Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

“Urapilah Hati, Pikiran, dan Mulutku, Ya Tuhan” merupakan inti dari tema retret bagi seratus tiga puluh Para Pemandu Umat Lingkungan (PPUL) Paroki Santa Monika- Serpong. Aku mendampingi retret itu dari tanggal 30 sampai dengan 31 Agustus 2014. Para Pemandu Umat Lingkungan ini adalah istimewa. Mereka istimewa karena dipanggil Tuhan untuk menyampaikan Firman-Nya dengan menterjemahkannya dalam bahasa sehari-hari sehingga dapat dimengerti. Nabi Yeremia menjadi modelnya. Tuhan mengurapi hati, pikiran, dan mata mereka dengan penyembahan salib sebagai tanda penyertaan-Nya. Penyertaan Tuhan diyakini akan menyentuh kekurangan mereka, yaitu yang berat lidah menjadi fasih berbicara dan yang minder karena belum berpengalaman (digambarkan dengan masih muda) menjadi bijaksana (digambarkan dengan menjadi dewasa). Pengurapan Tuhan juga dipercayai akan menjadikan hati peka terhadap hamparan Firman di depan mata sehingga mata mampu menangkap Sabda Tuhan itu dalam segala hal yang mereka jumpai. Mereka akhirnya bisa menyampaikan Firman Tuhan dalam bahasa sederhana, mudah diterima, dan menguatkan jiwa. Kemampuan ini nampak dalam sebuah renungan yang mereka buat selama dua puluh lima menit berdasarkan dari apa yang mereka temui. Sungguh luar biasa bahwa mereka bisa merumuskan refleksi teologis (merumuskan tentang Tuhan) yang menarik, seperti Tuhan adalah Tukang Sapu, yaitu Tuhan yang setia membersihkan hati kita, Tuhan adalah Pohon Beringin sebagai Tuhan adalah Sang Pengayom, dan Tuhan adalah Kran Air sebagai Tuhan, Sang Pemberi Berkat.


Puncak dari pengalaman tentang kehadiran Firman Tuhan di sekitar kehidupan  adalah semangat dan ketabahan dari seorang peserta. Ia  adalah seorang kakek yang berusia tujuh puluh dua tahun. Ia harus merawat istrinya yang harus menjalani cuci darah  setiap lima jam dalam sehari. Dalam usia yang seharusnya sudah menikmati masa tuanya, ia harus tetap bekerja untuk memenuhi biaya pengobatan istrinya. Hal ini sudah dilakukannya selama bertahun-tahun. Ia sangat merindukan retret ini untuk menimba kekuatan Tuhan sehingga ia meminta adik iparnya untuk menjaga istrinya. Doa dari para pesera retret untuknya mengalirkan kekuatan ilahi dalam jiwanya sehingga ia berkata  

“Di dalam salib Tuhan, aku tidak akan  pernah menyerah dengan kelelahan dan kesulitan dalam merawat istriku yang tak berdaya. Firman Tuhan dalam Roma 8:3 ‘Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?’  menguatkan imanku bahwa Tuhan senantiasa bersamaku dalam menjaga istriku yang sakit”.  Setelah diam beberapa saat, ia melanjutkan sharingnya : “Istriku yang sakit merupakan undangan Tuhan bagiku untuk menikmati Firman-Nya. Firman-Nya selalu nyata dalam diri istriku yang terbaring lemah. Setiap hari Tuhan menyampaikan Firman-Nya yang baru melalui keadaan istriku. Firman-Nya memberikan kepada hatiku sukacita pada saat aku mendampingi istriku yang menderita. Senyuman “trimakasih” dari istriku  merupakan ungkapan kebahagiaan Tuhan  karena setetes cinta dari kedalaman hati. Aku senantiasa diingatkan akan usapan kasih dari Veronika  atas wajah Tuhan Yesus yang lelah karena memanggul Salib menuju Golgota. Karena itu, aku senantiasa ingin membahagiakan istriku. Membahagiakan istriku yang sakit berarti membahagiakan Tuhan sendiri”.  

Sharing imannya mengingatkan kepadaku atas Firman Allah yang begitu indah : 
“Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam” (Yeremia 15:16).


Kehidupannya sebagai pesan Tuhan dapat aku rumuskan dalam sebuah bahasa yang puitis :

Istriku, engkau adalah orang yang paling aku cintai
Di setiap darah dalam tubuhmu yang dicuci, ada darah Kristus di salib.
Di setiap nafasmu yang tersengal-sengal, ada nafas Tuhan Yesus yang menahan derita di Golgota.
Di setiap gerakan tubuhmu yang berat, aku lihat Tuhan Yesus menggeliat untuk mengurangi kekakuan tubuh-Nya yang terpaku.
Ketika aku memandangmu, aku mensyukurimu sebagai perhiasan yang termulia.
Perhiasan yang termulia dari mahkota duri Tuhan yang tertancap di kepalamu.
Tancapan mahkota duri itu menyemburkan cahaya cinta dan pengorbananmu kepadaku.
Tetesan-tetesan darah di kepalamu berubah menjadi butir-butir berlian iman yang memancarkan kemilau indah
Engkau tak tergantikan oleh apapun dan siapapun.
Engkau tak terhapuskan dengan apapun.
Bersabarlah, kita akan meninggalkan kesuraman ini
dan bersama-sama bahagia menuju Sang Terang pada saatnya.


Kesimpulan yang dapat menjadi sebuah renungan : Mentari adalah bola besar yang bercahaya dan akan padam pada masanya. Namun, cinta tak  akan pernah pudar walaupun bumi  bergoncang. Cinta tak akan pernah gersang walaupun dunia kering kerontang karena kemarau yang panjang. Namun, cinta senantiasa hidup karena bersatu dengan cinta Tuhan. Kebersatuan cinta itu senantiasa memancar keluar sebagai Firman yang ingin ditangkap sebagai jalan dan terang kehidupan yang bahagia walaupun mungkin harus merasakan duri kehidupan : 
Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! (Mazmur 34:39a).


Tuhan Memberkati

Link:

Keywords:
Sharing Romo Felix, kursus evangelisasi pribadi, kursusevangelisasipribadi.blogspot.com, Romo Felix, Felix Supranto, SS.CC, Pastur Felix, 

Kamis, 04 September 2014

BAGAIMANA MENGALAMI SUATU TEROBOSAN


Dari buku "How to Turn Thoughts Into Things" By Bo Sanchez

Pernahkah Anda ditolak saat mengurus visa?
Jika belum, saya yakin, Anda tidak ingin mengalaminya.

Saya pernah ditolak saat mengurus visa. Dua kali. Dari Kedu¬taan Amerika. Lihatlah ke dalam hati saya dan Anda akan meli¬hat dua bekas luka yang sangat buruk.

Saya ingat upaya pertama saya. Saya masih dalam usia remaja kala itu. Saat saya bangun, saya sudah mandi keringat karena gugup. Hal itu tidak membantu ketika saat saya tiba di Kedutaan Amerika, saya melihat kerumunan orang-orang Filipin penuh harap di luar gerbang Surga Amerika.

Mereka berdiri dalam antrian yang panjang, mereka semua memohon untuk mendapatkan visa. Saya merasakan ketakutan mereka. Sangat menegangkan syaraf.
Setiap langkah mendekati pewawancara membuat perut saya bergolak.

Saya bahkan dapat mendengar detakan keras dada saya dan berpikir jangan-jangan orang lain mendengarnya. Deg- deg. Deg-deg. Deg-deg.

Akhirnya, tibalah giliran saya. Saya berjalan ke depan jendela kaca dan berkata dengan suara ge¬metar, "Selamat pagi..."

Apakah Saya Manusia?
Sang konsul, seorang pria berusia tiga puluhan dengan kacamata berbentuk segi empat, sangat serius, la melihat bertaruh dia pasti sudah membuat keputusan seketika itu juga, tapi wawancara harus tetap berlangsung, la bertanya, "Jadi mengapa Anda ingin pergi ke Amerika?"

Saya bilang, "Saya adalah seorang pengkotbah dan sebuah konvensi Katolik mengundang saya untuk memberi kotbah."
Seketika itu juga saya sadar - ya Tuhan, siapa di dunia ini yang akan percaya pada saya? Sebuah wajah berjerawat, remaja bertampang seperti orang-orangan sawah diundang untuk berbicara di sebuah konvensi religius?

Pria itu tiba-tiba meninggalkan biliknya. Saya membayangkan dia sedang tertawa terbahak-bahak dan bergulingan di lantai.

Ketika ia kembali, ia berkata terus-terang, "Maafkan saya Tuan Sanchez, saya tidak dapat memberi Anda visa."

Lagi-lagi, saya malah membayangkan dia mengatakan, "Maafkan saya Tuan Sanchez, Anda sangat tidak pantas menjejakkan kaki di pantai indah Amerika karena kami hanya menerima manusia."

Penolakan Lain
Kedua kali saya meminta visa, pewawancaranya seorang wanita Amerika, la sangat baik pada saya. Sebagai ganti me¬ngatakan, "Maaf, saya tidak dapat memberi Anda visa," ia ber¬kata, "Saya betul-betul minta maaf, saya tidak dapat memberi Anda visa."

Tapi itu tetap saja membuat hati saya hancur.

Ketiga kalinya saya meminta, saya pikir saya sudah ahli dalam membaca bahasa tubuh diplomat asing. Saya bersiap untuk menerima penolakan lagi.
Berikut adalah tanda-tanda yang saya cari: . Jika sang konsul tampak seperti zombie yang tak berperasaan, saya ditolak.

Komentar :

Sebenarnya bukan hanya ditolak mengurus visa, tetapi ditolak dari setiap segi kehidupan yang kita alami. Kesimpulannya jika kita ingin berhasil, kita harus terus mencoba dan mencoba, bagaimana seandai Bo akhirnya menyerah dan tidak lagi mengurus Visa nya ? mungkin kita tidak akan mengenal siapa Bo Sanchez. Mungkin kita sekarang mengalami kegagalan, tetapi jika kita terus berusaha siapa yang tau kapan kita akan berhasil. Tetapi jika anda berhenti sekarang juga , sudah tahu pasti kita gagal. Jadi untuk apa kita berhenti ?  Semoga semua ini bias menjadi makna hidup untuk kita.

Rabu, 03 September 2014

Musim Menanam Dan Menuai - Wealth in Your Life By Bo Sanchez (Part 02/02)


Sesungguhnya hanya ada 2 Langkah Manjur...
Banyak dari Anda yang merasa capek melakukan hal baik dan benar. Mengapa? Karena Anda tidak melihat hasilnya. Jadi Anda ingin menyerah. Jangan! Atau tidak akan ada panen.
Mungkin Anda telah berupaya untuk melamar pekerjaan, na­mun pekerjaan yang tepat belum datang juga. Tidak apa-apa. Teruslah melamar.
Mungkin Anda telah berusaha mendekatkan diri pada putera Anda, tapi ia masih tetap terasa jauh. Teruslah berusaha untuk mendekatkan diri.
Mungkin Anda telah berupaya dalam masalah keuangan Anda, tapi Anda tetap terkubur dalam hutang. Tidak apa-apa. Teruslah berupaya dalam masalah keuangan Anda.
Mungkin Anda telah berupaya dalam pernikahan Anda, tapi relasi tetap tegang. Tidak apa-apa. Teruslah berupaya membuat pernikahan Anda menjadi lebih baik.
Seorang isteri berkata pada suaminya, "Saya sangat lelah karena konflik kita. Saya tidak tahan lagi. Saya akan meninggal­kan rumah!" Dan sang suami berkata, "Saya juga! Saya juga tidak tahan lagi. Saya juga tidak ingin tinggal dalam rumah ini! Saya akan pergi bersamamu."
Suami tersebut tidak bermaksud untuk menyerah!
(Catatan: Saya tidak berbicara tentang pelecehan dalam perni­kahan. Hal ini adalah pengecualian dimana mungkin baik bagi seorang suami dan isteri untuk tinggal berpisah. Dalam artikel ini,
saya berbicara tentang masalah umum yang secara perlahan menghancurkan pernikahan jika kita tidak melakukan sesuatu terhadap relasi kita.)
Beberapa dari kita berpikir jika kita menanam, kita akan me­nuai. Itu bukanlah cara kerja alam semesta ini. Anda akan perlu menanam dan menanam dan menanam...dan kemudian Anda akan menuai.
Teman, jangan menyerah. Percaya bahwa panen akan datang!

Teruslah Tampil!

Teman, jika Anda ingin berhasil dalam hidup, Anda perlu tampil.
Di kedutaan Amerika, saya perlu tampil untuk melakukan wawancara. Dan ketika saya ditolak, saya mencoba lagi. Ketika hidup menolak apa yang Anda mimpikan, inilah kuncinya: Tampil kembali. Bagaimana jika saya menjadi sangat depresi dan saya tidak pernah mencoba lagi? Saya tidak akan pernah bisa berkot- bah di 34 kota di Amerika Utara.
Ingat bahwa dalam Musim Menanam, tidak semua benih Anda akan tumbuh. Banyak benih Anda tidak akan sampai pada Musim Menuai. Beberapa benih Anda akan mati. (Baca Matius 13:3-8)
Saya ingat satu area dalam hidup saya dimana saya harus menanam lagi dan lagi, hampir menyerah karena kelihatannya tak ada apapun yang terjadi...
Menanam Benih Cinta Dalam Emosi Saya
Selama hampir 30 tahun, saya selalu dihantui oleh ketakutan- ketakutan saya. Setiap pagi, saya terbangun dengan perasaan sedih yang sangat dalam. Selama bertahun-tahun, saya tidak tahu mengapa saya merasa begitu sedih. Beberapa tahun ke­mudian, saya mampu mendefinisikannya: itu adalah perasaan malu. Saya memiliki sebuah kepribadian yang merasa malu, berakar dalam pelecehan yang saya alami sebagai seorang anak
dan dalam usia remaja. (Saya berbicara tentang bagian me­nyakitkan dalam hidup saya ini dalam 2 buku saya, YourPast Does Not Define Your Future dan 7 Secrets To Real Freedom.) Saya betul-betul merasa malu terhadap diri sendiri. Saya merasa malu karena saya ada di dunia ini.
Selama bertahun-tahun, saya mencoba untuk menyenangkan orang lain. Karena jika seseorang tidak menyukai saya, saya akan merasa panik. Saya akan merasa mati. Saya sangat ingin orang lain mencintai saya.
Namun setiap hari, saya menanam benih cinta dalam hati saya. Saya menerima cinta Tuhan. Saya berusaha keras mencintai diri sendiri. Saya membiarkan orang lain mencintai saya. Ada hari- hari dimana saya merasa oke. Tapi ada banyak hari dimana ketakutan-ketakutan lama saya mencengkeram saya lagi.
Ada hari-hari dimana saya ingin menyerah. Saya merasa se­muanya sia-sia - bahwa saya tidak akan pernah sembuh. Dan kemudian suatu hari - saya baru perhatikan - ketakutan-ketakut­an saya berkurang. Intensitasnya melemah. Rasa malu saya semakin berkurang.
Saya tahu sebuah mukjizat sedang terjadi. Saya tahu cinta sedang memenangkan jiwa saya, mengalahkan ketakutan dalam hidup saya.
Hari ini, saat saya menuliskan ini, hidup saya telah berubah total. Panen telah tiba!
Sekarang saya sangat mencintai diri saya. Saya tidak lagi merasa malu akan diri saya. Saya tidak bisa mulai untuk menje­laskan pada Anda perubahan dalam hidup batin saya. Rasanya seperti malam berubah menjadi siang - dan saya adalah satu pribadi yang baru dalam batin saya.
Namun ada langkah kedua untuk menuju Musim Menuai.
Langkah #2: Menanam Dalam Lingkungan Yang Benar
Hukum Tuaian mengatakan, apa yang kamu tabur, kamu tuai.
Namun tersembunyi dalam Hukum ini adalah kebutuhan untuk menanam benih Anda di kondisi lingkungan yang benar: Sinar matahari yang baik dan air yang cukup.
Jika saya menanam benih yang benar di lingkungan yang salah, tetap tidak akan ada tuaian.
Apa yang dimaksud dengan lingkungan yang benar? Iman. (Baca Ibrani 11:1)
Anda perlu menanam benih Anda dengan blessing mindset. Iman adalah air dan sinar matahari dari benih Anda. Apa yang dimaksud dengan blessing mindset? Bahwa apapun yang terjadi, Anda berharap untuk diberkati. Bahwa Anda berharap hal-hal baik terjadi pada Anda.
Saya tahu orang-orang yang mengupayakan keuangan mereka - tapi tidak mengharapkan menjadi sungguh kaya. Saya tahu orang-orang yang mengupayakan relasi keluarga mereka - tapi tidak mengharapkan mereka akan menjadi lebih baik. Saya tahu orang-orang yang mengupayakan kesehatan mereka - tapi tidak mengharapkan kesembuhan.
Jika Anda ingin diberkati Anda harus bertiarap untuk diberkati. Anda harus mengharapkan tuaian. Mari saya berikan sebuah contoh.
Bentuk Wealth Mindset Anda
Dalam bab terdahulu, saya mengatakan bahwa jika Anda ingin menuai lebih banyak uang, Anda harus menanam nilai. Me­ngapa? Karena uang adalah sebuah lambang nilai.
Tapi mengapa selama 30 tahun pertama hidup saya, saya miskin, sekalipun ketika saya menanam benih yang benar?
Ketika saya mulai melayani Tuhan pada usia 13, berkotbah hampir setiap hari dan memimpin organisasi non-profit, saya sudah menanam nilai ke dalam hidup saya dan nilai-nilai yang sangat besar dalam diri orang lain - dengan membantu orang yang tak terhitung jumlahnya. Saya menanam apa yang saya
yakini sebagai 3 benih kekayaan - karakter (integritas), kompe­tensi (bakat), dan koneksi (relasi).
Jadi mengapa tidak ada tuaian?
Saya tidak memiliki blessing mindset yang benar untuk mem­buat benih-benih itu tumbuh. Dalam hal ini, saya kekurangan suatu weallh mindset untuk membuat benih uang bertumbuh. Dengan kata lain, saya tidak ingin menjadi kaya. Saya tidak ber­harap untuk diberkati. Perlu waktu bertahun-tahun untuk keluar dari mentalitas kekurangan saya. Hal ini berasal dari...
. Kepercayaan yang salah tentang diri saya sendiri: Saya mengidentifikasikan diri saya dengan kemiskinan.
. Kepercayaan yang salah tentang Tuhan: Saya pikir Dia menginginkan saya menjadi miskin.
• Kepercayaan yang salah tentang uang: Saya percaya uang adalah alat dari si jahat.

Saya tetap miskin karena saya tidak menginginkan tuaian.

Saya sudah memberi begitu banyak nilai pada orang-orang, yang harus saya lakukan adalah meminta dan saya akan menda­pat bayaran yang baik. Tapi saya tidak ingin dibayar.Maka saya tetap miskin.

Ketika saya berusia 30 tahun, saya mulai membuka diri saya terhadap tuaian.

Saya mulai menumbuhkan wealth mindset.

Dan saya mulai menumbuhkan kekayaan saya juga.
Saya ingat membaca semua buku yang bisa saya dapatkan tentang uang dan mencari semua pembimbing yang dapat saya temukan. Terkadang, rasanya semakin saya tahu, semakin saya menjadi bingung. Namun saya tidak berhenti. Saya terus belajar. Hingga saya mengerti.

Saya juga terjun dalam delapan bisnis kecil - dan gagal dalam semuanya. Saya kehilangan uang berton-ton. (Saya tidak punya banyak uang sebenarnya, jadi Ion" adalah istilah yang relatif.) Rasanya hancur. Depresi! Tapi saya tidak pernah menyerah.

Dan kemudian sebuah terobosan datang.
Hari ini, uang mengalir kepada saya seperti sebuah sungai. (Dibandingkan dengan para pembimbing saya yang multimilyu- ner, sungai saya tampak seperti tetesan dari sebuah kran yang bocor. Tapi hal itu baik bagi saya!) Saya tidak mencari kesem­patan bisnis; kesempatan bisnis datang pada saya. Dan orang- orang yang tepat, sumber-sumber yang tepat, dan kebijakan yang tepat datang pada saya.
Ya, tuaian telah tiba.
Dan tuaian-tuaian yang lebih besar akan tiba karena saya terus menanam.
Beberapa dari Anda menikmati Musim Menuai Anda dalam berbagai area hidup Anda.
Jangan berhenti menanam.
Jangan lupa untuk mengambil beberapa benih dari tuaian Anda dan menanamnya kembali.
Jika Anda melakukan ini, Musim Menuai yang lebih besar akan tiba.
DITULIS ULANG DARI:
BUKU BAHASA KASIH - EDISI AGUSTUS 2014


Pendaftaran Online Anggota KEP - Santo Yakobus :
www.KursusEvangelisasiPribadi.blogspot.com

Musim Menanam Dan Menuai - Wealth in Your Life By Bo Sanchez (Part 01/02)


By BO SANCHEZ

.   Jika ia menggelengkan kepalanya...ditolak.
.   Jika ia mengernyitkan alis...ditolak.
.   Jika ia menguap...ditolak.
•   Jika ia melirik arlojinya...ditolak.
.   Jika ia menarik nafas.. .ditolak.
.   Jika ia tetap berada di depan saya...ditolak.
Maka saya sangat terkejut ketika ia menyetujui visa saya. Begitu saja. Tanpa bertanya pada saya, pria ini berkata, "Semo­ga perjalanan Anda menyenangkan."
"Maaf?" tanya saya. la tersenyum dan mengulang kata-kata- nya, "Semoga perjalanan Anda menyenangkan."
"Memang saya akan ke mana?" tanya saya. Tapi akhirnya saya mengerti. Saya hampir berlari keluar dari kedutaan sambil meloncat-loncat. Hei, biar bagaimanapun saya adalah manusia!
Ketika saya belum mempunyai visa, saya ingat saya mengun­jungi seorang tetangga yang mempunyai sebuah tanaman pot dari Amerika. Saya meletakkan kaki saya di dalamnya dan ber­kata, "Hei, akhirnya saya telah menginjak tanah Amerika!"
Ketika saya tidak mempunyai visa, saya tidak dapat masuk satu sentimeter pun di teritori Amerika. Tapi karena saya mendapat visa, sekarang saya berkotbah di 34 kota di Amerika Utara.
Teman, ada sesuatu yang lebih baik daripada sebuah visa Amerika. Ada sebuah visa ke tempat yang berkelimpahan dan penuh cinta dan penuh kemenangan yang Tuhan ingin Anda miliki. Seharusnya saya tahu. Saya sedang mengalaminya sekarang.
Sekarang Adalah Musim Menuai Bagi Saya
Orang-orang bertanya pada saya, "Bo, bagaimana engkau bisa begitu diberkati?"
Mereka menunjuk pada keluarga saya yang penuh cinta. Mere­ka menunjuk pada pekerjaan fantastis saya yang memberkati dunia. Mereka menunjuk pada berkat finansial saya yang berasal dari bisnis kecil saya. Mereka menunjuk pada lingkaran sahabat saya yang menakjubkan. Mereka menunjuk pada penampilan saya yang sangat menarik. (Catatan: "Mereka'' dalam hal ini ada­lah ibu dan isteri saya.)

Ya, saya hidup dalam sebuah kehidupan impian. Terkadang, saya harus mencubit diri sendiri. Apakah ini sungguh-sungguh terjadi? Saya akan ceritakan pada Anda suatu keingin-tahuan yang mulai terjadi ketika saya berusia 40.

Pada 2006, saya dianugerahi Ten Outstanding Young Men, oleh Presiden di Istana Malacanang.

Pada 2007, saya menerima Penghargaan Serviam, penghar­gaan tertinggi dari Catholic Mass Media Awards oleh tak lain Kardinal Rosales sendiri.

Dan baru minggu lalu, sebuah pengakuan fantastis lain: Penghargaan The Golden Gavel dari Toastmasters International - penghargaan tertinggi yang diberikan kepada non-Toastmaster untuk public speaking.

Tahukah Anda mengapa saya begitu diberkati?
Inilah teori saya: Ada dua musim di alam semesta ini: . Musim Menanam . Musim Menuai
Selama 40 tahun, saya berada dalam Musim Menanam.
Hari ini, saya berada di Musim Menuai dalam hidup saya.
Hanya sesederhana itu. Selama bertahun-tahun, saya telah menanam dan menanam...dan menanam! Menyeberang garis antara menanam dan menuai seperti menerima sebuah visa un­tuk pergi ke suatu tempat yang berkelimpahan dan bersantai. Dengan kata lain, saya telah mengalami suatu terobosan.
Saya akan jelaskan kedua musim ini sesederhana mungkin sebisa saya. Saya tidak dapat berpikir tentang uraian yang lebih jelas selain ini:
Dalam Musim Menanam, saya mengejar berkat.
Dalam Musim Menuai, berkat mengejar saya.
Bagaimana caranya agar Anda sampai pada Musim Menuai? 

DITULIS ULANG DARI:
BUKU BAHASA KASIH - EDISI AGUSTUS 2014


Pendaftaran Online Anggota KEP - Santo Yakobus :

Rabu, 13 Agustus 2014

Warnailah Dunia Dengan Keceriaan

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Seorang  bayi yang baru lahir terbaring  di ruang ICU dengan tubuh penuh dengan selang.  Matanya terpejam,  yang menandakannya sedang tidur nyenyak. Orang tidak akan menyangka bahwa hidup bayi itu secara medis sudah dinyatakan tiada harapan. Bayi itu hidup karena mesin bantu yang dikenakannya pada tubuhnya. Orangtuanya tidak menyerah dengan keadaan bayinya. Mereka mengusahakan bayinya selamat dikala orang sudah angkat tangan. Orangtuanya mengatakan : “Kuasa Tuhan melebihi para dokter di dunia. Tuhan sanggup memulihkan  anak kami ketika para ahli sudah tidak sanggup melakukannya. Kami percaya akan kuasa doa”.

Aku membaptisnya, pada tanggal 14 Maret 2014. Semua yang menyaksikan pembaptisannya itu tersentak. Ketika aku menuangkan sedikit air di dahinya,  bayi itu membuka matanya dan mulutnya bergerak.  Tanda-tanda kehidupan dari sang bayi ini mengingatkan aku akan  perkataan Ayub kepada Tuhan  : "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayub 42:2).     

Bayi yang baru lahir itu kemudian  harus  berkali-kali menghadapi  meja operasi. Ia  lebih  dari tiga bulan berada di rumah sakit. Biaya untuk perawatannya sudah tak terhitung banyaknya. Akan tetapi, bagi orang tuanya, biaya dan kelelahan tidak sebanding  dengan pertumbuhan iman yang mereka dapatkan dari bayinya itu : “Tuhan mengirimkan kepada kami seorang dokter Katolik yang baik hati. Ia senantiasa mendampingi kami dan memotivasi kami bahwa senantiasa ada harapan bagi bayinya yang mungil. Ketika kami hampir kehabisan biaya bagi bayi kami, pihak rumah sakit senantiasa memberikan  berbagai potongan sehingga meringankan kami. Kami mensyukuri setiap perkembangan yang baik dalam diri bayi kami sekecil apapun  sebagai kebaikan Tuhan yang sungguh nyata”.  Sabda Tuhan bahwa ia akan menolong umat-Nya diyakini dan telah dialami dari ibu itu : “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati” (Ulangan 31:8). Ungkapan iman yang mendalam itu akan mengagetkan banyak orang karena ibu dari bayi itu ternyata belum dibaptis.
Ibu dari bayi itu, pada tanggal 09 Mei 2014, memintaku untuk datang ke rumah sakit. Ia menginginkan aku mendoakan bayinya yang akan pulang ke rumah dalam keadaan sehat. Sesampainya di rumah sakit, aku mengendong bayi itu. Mata bayi itu memandangku dan mulutnya komat-kamit seakan-akan ingin berbicara kepadaku. Aku tatap bayi itu sambil berkata : “Nak, teruslah tersenyum untuk ayah dan ibumu. Doa mereka yang paling menyayangimu itu telah menyembuhkanmu”. Ibu dari bayi itu juga berkata dengan bangganya : “Nak warnailah dunia dengan keceriaanmu. Ceriamu adalah ceria ayah dan ibumu. Ceria kita adalah ceria Tuhan. Sejarah dunia telah engkau ubah dengan perjuangan dan kesembuhanmu”. 

 Bayi itu kini memang benar-benar telah sehat dan sangat lucu. Pancaran matanya memancing orang untuk mendekapnya karena semua kebaikan Tuhan terangkum di dalamnya. Imannya pada Tuhan akan bertumbuh dengan melihat bayi ini.
Pesan yang dapat kita renungkan dari peristiwa ini : Selimutilah saudara-saudari yang sakit dengan cinta dan iman sejati. Selimut  cinta dan iman pasti akan mengalirkan kehangatan kasih Allah ke dalam hatinya. Kehangatan dari Sang Ilahi akan menegakkan semangat juang untuk hidup sampai Ia menghendakinya kembali ke dalam tangan-Nya yang suci. Karena itu, andalkanlah Tuhan dan taruhlan harapan kepadaNya ketika menghadapi penyakit, maka kita akan diberkati : “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan” (Yeremia 17:7).

Tuhan Memberkati

Mengenal Lebih Jauh Pastor Felix Supranto, SS.CC : 

Ingin Mengenal Yesus Lebih Dalam? Ikuti KEP 23
Sign Up Your Email And We Will Inform You !